Pertemuan Kembali pada Puisi

Dua ribu empat belas. Di  tahun ini aku jatuh lagi  pada sesuatu yang bernama puisi. Bisa dikatakan bahwa ini adalah tahun kelahiran sebagai penyair. Di tahun inilah aku mulai berani mempublikasikan coretan-coretanku. Awalnya, aku hanya begitu tertarik dengan postingan seorang mahasiswa jurusan sastra Arab di Facebook. Tulisan-tulisannya begitu indah, dan setiap membacanya, aku merasakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Entah karena angin apa, aku, seorang gadis pemalu, mengirimkan sebuah pesan ke inboxnya. Menyatakan perasaanku, bahwa aku begitu mengagumi puisi-puisinya. Kuberanikan pula untuk bertanya bagaimana cara dia menghasilkan puisi semacam itu.

“Tulislah dari hatimu. ” Ucapnya.

Berbekal sepotong nasehat itu, kubuatlah sebuah puisi sederhana. Kukirimkan puisi itu padanya. Kukirimkan pula puisi ke akun Facebook salah satu media lokal di daerahku.  Awalnya, aku hanya menghendaki sebuah kritikan atas karya pertama itu.  Namun,di luar perkiraan, mereka malah menerbitkannya.  Sejak itu, aku mulai mengasah kemampuan dengan mengikuti berbagai grup kepenulisan dan perlombaan. Terpampangnya puisiku di media lokal tersebut mengantarkan pada perkenalan dengan beberapa penyair di kampusku.  Mereka orang-orang hebat.  Pada merekalah aku mencuri ilmu.

 

 

post